Mosippy - Doo's Heart

Mosippy - Doo's Heart (www.flickr.com)

Hati nurani adalah penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani memerintahkan atau melarang kita melakukan sesuatu kini dan di sini. Ia tidak berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang sangat konkret. Misalnya seorang situasi seorang hakim ketika terdakwa hendak menyuapnya.

Hati nurani berkait erat dengan kenyataan bahwa manusia memunyai kesadaran. Hanya manusia yang memunyai kesadaran. Hewan tidak. Kesadaran berarti kesanggupan mengenal diri sendiri dan karena itu berefleksi tentang dirinya. Manusia bukan hanya melihat pohon di kejauhan sana, melainkan menyadari bahwa dialah yang melihatnya. Dalam diri manusia terjadi semacam penggandaan: ia bisa kembali kepada dirinya sendiri. Manusia bisa menjadi subjek yang mengamati juga sebagai objek yang diamati.

Kesadaran diambil dari kata Latin scire (mengetahui) dan awalan con (turut, bersama dengan). Conscientia berarti turut mengetahui. Kata ini dipakai untuk menunjukkan hati nurani. Dalam diri manusia, seolah-olah ada instansi yang menilai dari segi moral perbuatan-perbuatan yang dilakukannya, memberikan pujian dan sanksi.

Dapat dibedakan dua macam hati nurani, yaitu hati nurani retrospektif dan hati nurani prospektif. Yang pertama menilai perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan. Contoh, saya telah berbohong kepada teman. Lalu hati nurani menghukum saya dengan perasaan bersalah. Hati nurani retrospektif bertindak dalam bentuk menghukum, menuduh, atau mencela, juga memuji. Yang kedua melihat ke masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan yang akan dilakukan. Bentuknya adalah mengajak atau mengatakan jangan. Contoh, ketika seorang hakim ditawari suap, hati nuraninya akan mengatakan jangan.

Hati nurani bersifat personal, artinya selalu berkaitan erat dengan pribadi bersangkutan. Hati nurani hanya berbicara tentang dirinya, dan tidak memberikan penilaian tentang perbuatan orang lain. Kita bisa memberikan pertimbangan kepada orang lain, tetapi integritas kita tidak akan merasa diperkosa bila orang lain melakukan perbuatan yang menurut kita tidak baik.

Hati nurani juga bersifat adipersonal, melebihi pribadi, transenden, seolah-olah ia merupakan instansi di atas kita. Terhadap hati nurani, kita seakan-akan hanya menjadi pendengar, membuka diri terhadap suatu yang datang dari luar. Dalam hal ini, hati nurani sering juga diistilahkan suara hati, kata hati, suara batin, bahkan suara Tuhan.

Hati nurani berkait dengan rasio, karena hati nurani memberikan penilaian. Namun keputusan yang diberikan hati nurani biasanya langsung, bersifat intuitif, seakan-akan tidak melalui argumentasi atau penalaran rasional. Tapi sebenarnya penalaran rasional itu bisa ditelusuri dengan jelas, terutama hati nurani yang bersifat prospektif.

Dipandang dari sudut subjek, hati nurani adalah hakim atau norma terakhir untuk perbuatan manusia. Hati nurani bertugas menerjemahkan prinsip-prinsip moral yang umum ke dalam situasi konkret. Namun demikian, belum tentu suatu perbuatan yang sesuai hati nurani adalah baik juga secara objektif. Misalnya pembunuhan yang dilakukan kaum teroris, bisa jadi didorong oleh suara hati. Klaim hati nurani sulit dibuktikan dan mudah dibelokkan untuk melakukan kejahatan.

Hati nurani harus dididik, seperti juga akal budi memerlukan pendidikan. Sebab ada juga hati nurani yang buruk, misalnya apa yang dalam psikiatri disebut moral insanity, kelainan jiwa yang membuat orang buta terhadap yang baik dan buruk. Anak yang dibesarkan dalam keluarga pencuri, misalnya, sulit untuk memunyai hati nurani yang baik tentang hak milik. Ia akan seenaknya saja mengambil hak orang lain.

Menurut Gabriel Madinier (1895-1958), tempat yang serasi untuk pendidikan hati nurani adalah keluarga, bukan sekolah. Pendidikan hati nurani harus dijalankan sedemikian rupa sehingga anak menyadari tanggung jawabnya sendiri. Mulanya suatu perbuatan diancam dengan sanksi fisik, lama-kelamaan ketakutan itu harus diganti dengan kecintaan akan nilai-nilai baik.

[Disarikan dari K. Bertens, Etika, Jakarta: Gramedia, 2000, hal. 49-66]

About these ads