Ciputat, Jumat 30 Januari 2009

Terakhir, aku ingin bercerita tentang ibu guruku, Ibu Neneng Tati Sumiati, Psi, M.Si.

Dia perempuan (tentu saja). Cantik. Manis. Seksi. Baik. Ramah. Tidak pernah terlihat marah. Tampaknya penyabar, pengertian, dan mudah mengalah.

Dari segi ini saja, aku bisa katakan bahwa suaminya beruntung.

Semoga Ibu Guruku juga seberuntung suaminya.

Di awal kuliah, dia mengizinkanku absen lebih banyak dari yang diizinkan karena pada jam yang sama aku harus mengikuti kuliah Psikologi Keluarga. Dalam hal ini, guru Psikologi Keluarga (Ibu Zahrotun Nihayah dan Ibu Fadhilah Suralaga) juga orang baik karena mengizinkan hal serupa.

***

Aku tidak tahu seberapa tinggi ilmu Ibu Guruku. Tapi yang pasti, ilmunya lebih tinggi daripada ilmu murid-muridnya. Ketinggian ilmu seseorang hanya bisa diukur oleh orang yang ilmunya setara atau lebih tinggi.

Ada ungkapan dalam sebuah hadis, “Tidurnya orang alim (berilmu) lebih baik daripada salatnya orang jahil (bodoh).”

Ada lagi ungkapan, entah kata siapa, “Sesaat bersama orang alim lebih baik daripada setahun bersama orang bodoh.”

Bertrand Russel punya ungkapan yang mengagetkan. Katanya, “Satu jam duduk bersama Galileo dan Newton lebih berharga daripada seumur hidup kuliah kepada Plato dan Aristoteles.” (Kata-katanya tidak persis, sumbernya saya lupa)

Russel menganggap ilmu Isaac Newton dan Galileo Galilei lebih tinggi dan lebih teruji daripada pengetahuannya Plato dan Aristoteles karena Newton dan Galileo hidup lebih belakangan. Newton dan Galileo tahu apa yang diketahui Plato dan Aristo, sementara sebaliknya tidak. Selain itu, filsafatnya Plato dan Aristo banyak tercampur dengan khayalan dan mitos, sementara ilmunya Newton dan Galileo relatif lebih terbebaskan dari hal-hal sedemikian itu.

Kaitan ungkapan-ungkapan tersebut dengan kuliah Psikologi Kesehatan: kuliah ini disajikan dengan metode presentasi dan diskusi, ditutup dengan kesimpulan Ibu Guru. Presentasi dibawakan oleh kelompok. Waktu presentasi dan diskusi lebih lama daripada waktu yang dimiliki Ibu Guru untuk bicara, sekitar 1 s.d. 1,5 jam, sementara waktu Ibu Guru paling banyak cuma setengah jam.

Namun hasilnya di pihakku sendiri selalu begini: aku seringkali tidak mendapat pengetahuan apa-apa dari presentasi kelompok, juga dari makalah mereka yang umumya kacau-balau, selain barangkali sejumlah istilah baru dan beberapa kebingungan.

Maka aku hanya menunggu giliran Ibu Guruku yang bicara. Dan selalu, kata-katanya yang beberapa menit itu terasa jauh lebih berharga dan lebih menjelaskan.

***

Aku menyukai mata kuliah yang dibawakannya. Psikologi Kesehatan. Baru pertama kali ini diajarkan di Fakultas Psikologi sebagai mata kuliah peminatan. Ada beberapa hal yang kuperoleh dari mengikuti mata kuliah ini, antara lain:

Pertama, sejumlah pengetahuan tentang psikologi dan kesehatan. Ini hal standar yang memang mesti kita peroleh setiap kali mengikuti pelajaran apapun. Tak ada yang istimewa dengan perolehan pengetahuan semacam ini, karena memang sudah semestinya.

Kedua, kesadaran untuk lebih menghargai kesehatan. Pengetahuan (aspek kognitif) melahirkan sikap (afektif). Gabungan keduanya memicu perbuatan (psikomotor).

Ketiga, aku jadi berhenti merokok. Sekarang sudah 12 hari aku tidak merokok, dan aku yakin bisa seterusnya. (Poin ini kupisahkan dari poin kedua, karena kuanggap begitu penting secara simbolik).

Keempat, setelah bertahun-tahun tidak masuk kelas dan mengikuti mata kuliah tertentu, aku merasakan sensasi yang berbeda ketika aku kuliah lagi dan sekelas bersama anak-anak yang lima tingkat lebih muda (angkatan 2005, aku angkatan 2000). Sensasi yang berbeda ini meluaskan pikiran dan rasanya menyenangkan.

Kelima, adanya catatan harian ini. Jumlahnya 12 catatan. Inginnya kutulis lebih banyak, tapi ternyata tidak setiap hari aku mendapat ide untuk ditulis. Kalau hanya mencatat hal-hal yang kulakukan dari jam ke jam, rasanya itu tidak menarik. Bukan tingkah lakuku setiap hari yang ingin kutuliskan, tapi makna yang kuperoleh dari apa-apa yang kulakukan. Setiap hal yang kulakukan mungkin ada maknanya, tapi ternyata ada masalah lain: aku tidak selalu punya waktu untuk merenungkannya.

O ya, mungkin yang kutuliskan tidak selalu berhubungan dengan tema psikologi atau kesehatan, kecuali sedikit saja dan itu pun mungkin terkesan dipaksakan. Tapi aku sedang belajar untuk meninjau sesuatu dari beragam sudut pandang.

Kurasa itu saja dulu. Mungkin seharusnya aku mendapatkan lebih banyak lagi, misalnya teman-teman baru dan mungkin gadis-gadis muda yang bisa kuajak kencan. Tapi, ah.. (soal ini, yang kuperoleh di kelas Psikologi Keluarga beberapa tingkat lebih baik).

***

Tahun ini adalah pertama kali Psikologi Kesehatan dijadikan sebagai matakuliah peminatan. Mungkin tahun depan masih akan diulang.

Tidak ada manusia yang sempurna dan perbuatan yang sempurna. Kuyakin Ibu Guruku yang cantik telah melakukan evaluasi atas kuliah yang dibawakannya, dan akan memerbaikinya di tahun yang akan datang.

Tapi aku ingin menyampaikan dua hal.

Pertama, Ibu Guruku tergolong permisif soal etika ilmiah. Makalah kelompok dibuat seadanya, sering tanpa mencantumkan referensi, dan kalaupun ada, tidak satu pun yang betul cara pengutipan sumbernya. Dan Ibu Guruku diam saja soal ini.

Mungkin yang mereka buat memang bukan makalah (paper). Katakanlah, sekadar bahan diskusi. Maka yang terjadi, mereka hanya melakukan “copy and paste” dari satu atau dua buku, atau menerjemahkan secara letterlijck sebuah bab dari buku sumber utama (Health Psychology karya Shelley E. Taylor) dengan kualitas transtool.

Hal semacam ini, menurutku, dapat menghambat iklim ilmiah di Fakultas Psikologi. Jika disiplin prajurit dilihat dari cara mereka berbaris, maka disiplin ilmiah mahasiswa (juga dosen) dilihat dari cara mereka menulis.

Kedua, silabus mata kuliah perlu lebih dipertegas kaitannya dengan psikologi. Misalnya ada tema “sistem tubuh manusia”. Kalimat itu tidak cukup. Kelompok yang mendapat tugas membuat makalah tentang tema ini cenderung hanya mengacu pada buku-buku kedokteran sehingga kuliahnya pun jadi lebih mirip kuliah kedokteran, bukan psikologi (kesehatan).

Contoh lagi, ada tema “Heart Disease, Stroke, Hipertensi, dan Diabetes Melitus”. Jika judulnya seperti ini saja, mahasiswa cenderung hanya menjelaskan nama penyakit-penyakit itu dan tidak mengaitkannya dengan psikologi.

Usul saya, sejak dari judul, istilah psikologi harus disebutkan. Misalnya, “Sistem Tubuh Manusia dan Kaitannya dengan Psikologi”, “(Nama-nama penyakit) dan Psikologi”, dan semacamnya.

***

Dari Freud saya belajar untuk mencurigai setiap motif.

Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri, “Seandainya Ibu Guruku tidak secantik itu, maukah aku menghabiskan waktu sekian jam dalam sekian hari untuk menulis catatan ini?” []

About these ads