Ziarah ke Makam Keramat di Kabupaten Pandeglang Banten

Unwinged - Ziarah (flickr.com)
Unwinged - Ziarah (flickr.com)

Latar Belakang

Ziarah makam tergolong tradisi yang sangat tua, barangkali setua kebudayaan manusia itu sendiri. Tradisi ini umumnya berhubungan erat dengan unsur kepercayaan atau keagamaan. Tradisi, menurut Parsudi Suparlan, sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin (Jalaluddin, 1996: 180), merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Meredith McGuire (dalam Jalaluddin, 1996: 180), melihat bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi erat kaitannya dengan mitos dan agama.

Kabupaten Pandeglang, terletak di wilayah provinsi Banten, merupakan kawasan yang sebagian besar masih merupakan pedesaan. Dalam satu tulisannya, Azyumardi Azra menyebutkan, orang-orang Muslim di Banten percaya bahwa Tuhan sangat baik dan tidak akan mengabaikan mereka; tetapi pada saat yang sama, kekuatan-kekuatan jahat dan setan terus mendatangkan bencana, sehingga mereka terpaksa mengarahkan aktivitas ritual kepada kekuatan-kekuatan jahat tersebut. Dalam kaitan ini pula terjadi pemujaan terhadap orang-orang yang telah mati, yang dipandang potensial untuk membantu mereka dalam menghadapi berbagai kekuatan jahat (Azra, 1999: 66).

Ungkapan yang digunakan Azra dalam kalimat “pemujaan terhadap orang-orang yang mati” mungkin terlalu berlebihan untuk menggambarkan keyakinan masyarakat Banten. Pada kenyataannya, orang-orang Banten akan menolak kalau dikatakan mereka memuja orang-orang yang telah mati. Lebih tepat kalau dikatakan, mereka menggunakan arwah orang-orang yang telah mati itu sebagai perantara (wasilah) untuk menyampaikan doa atau keinginan mereka kepada Tuhan. Arwah itu pun bukan sembarang arwah, melainkan arwah dari orang-orang yang semasa hidupnya dianggap sebagai tokoh, misalnya kiyai, syekh, jawara (orang sakti), atau sultan. Orang-orang Banten percaya bahwa tokoh-tokoh itu mempunyai karomah atau keistimewaan spiritual tertentu. Ketika sudah meninggal, karomah itu dipercaya masih ada dan bisa diperoleh dari makam mereka. Oleh karena itulah, aktivitas ziarah ke makam keramat sering disebut ngalap barokah, yaitu mencari berkah dari keramat yang terdapat pada makam sang tokoh.

Pemujaan terhadap orang-orang yang telah meninggal dahulu memang ada ketika agama Islam belum dianut masyarakat Banten. Kepercayaan semacam itu, yang disebut animisme, secara berangsur-angsur telah terkikis dengan datangnya Islam. Diperlukan penelitian tersendiri apakah tradisi ziarah ke makam keramat, yang menunjukkan adanya keyakinan mengenai keistimewaan roh-roh dari tokoh tertentu, itu merupakan kompromi antara kepercayaan lama dengan ajaran Islam atau bukan. Sebab Islam yang datang ke Banten, dan ke Nusantara secara umum, adalah Islam dengan nuansa sufisme sangat kental. Telah banyak dikemukakan oleh para ahli sejarah, bahwa para penyebar Islam di Jawa hampir seluruhnya adalah pemimpin-pemimpin tarekat (Dhofier, 1982: 144). Di Banten sendiri, pernah dan masih berkembang aliran-aliran tarekat antara lain tarekat Syatariyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Syadziliyah. Dalam sufisme, ada ajaran tentang tawassul dengan para guru dan syekh terdahulu, dan ziarah merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka tawassul. Jadi, tidak bisa dengan serta merta dikatakan bahwa ziarah ke makam keramat merupakan warisan tradisi pra-Islam.

Di kalangan Islam sendiri, sebetulnya aktivitas ziarah ke makam keramat dan doktrin tawassul masih menimbulkan pertentangan teologis yang belum terselesaikan, antara pihak yang membolehkan (bahkan menyunahkan) dan pihak yang membid’ahkan (bahkan mengharamkan). Pihak yang membolehkan ziarah ke makam keramat umumnya berasal dari kalangan Islam tradisional, sedangkan pihak yang melarang berasal dari kalangan Islam modernis. Tapi terlepas dari pertentangan teologis tersebut, ziarah ke makam keramat merupakan sebuah fakta sosial yang tidak bisa diabaikan, bahkan merupakan suatu tradisi atau bentuk kebudayaan yang menarik untuk diteliti.

Menilik tempatnya, makam yang menjadi tujuan ziarah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu makam keluarga dan makam keramat. Pada makam keluarga, misalnya makam orang tua, orang yang berziarah umumnya bertujuan untuk mendoakan arwah yang dikubur agar mendapat keselamatan atau tempat yang baik di sisi Tuhan. Jadi, manfaatnya bukan ditujukan untuk kepentingan orang yang berziarah, melainkan untuk kebaikan roh orang yang diziarahi.

Ziarah ke makam keluarga memiliki makna kultural yang hampir sama dengan halal bihalal, di mana dalam periode tertentu, misalnya setahun sekali, orang merasa perlu menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk mengunjungi saudara-saudara dan tetangganya. Jika halal bihalal adalah silaturahmi kepada orang-orang yang masih hidup, ziarah kubur adalah silaturahmi kepada orang-orang yang sudah mati. Orang yang sewaktu lebaran tidak pulang kampung untuk berhalal bihalal, ia bisa dianggap lupa asal usul. Demikian pula, orang yang dalam periode tertentu tidak melakukan ziarah, khususnya jika ia memiliki orang tua yang sudah meninggal, akan dianggap anak yang tidak berbakti.

Sedangkan pada makam keramat, aktivitas berziarah ke sana tampaknya memiliki tujuan atau motivasi yang beragam. Hal ini mengingat bahwa orang-orang yang berziarah ke makam keramat berasal dari berbagai daerah dan kalangan serta status sosial yang bermacam-macam. Bahkan untuk makam keramat yang besar, penziarah bisa berasal dari daerah yang sangat jauh, luar pulau, sampai luar negara.

Pengertian Ziarah dan Makam Keramat

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Tim Penyusun, 1990), ziarah diartikan sebagai “kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia, misalnya makam, dsb.” Dari pengertian ini, tampak bahwa yang dikunjungi dalam kegiatan ziarah bukan sembarang tempat, melainkan tempat yang dianggap keramat, misalnya makam atau kuburan. Selain makam, tempat-tempat yang kerap dianggap keramat antara lain tempat lahir seorang tokoh besar (misalnya tempat lahir Syekh Nawawi Banten di Tanahara), tempat persinggahan (misalnya situs Batu Quran di Cibulakan, Pandeglang), dan tempat-tempat lain yang memiliki nilai sejarah spiritual tinggi.

Pengertian keramat itu sendiri, menurut KBBI, adalah: (1) suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaannya kepada Tuhan (tentang orang yang bertakwa); (2) suci dan bertuah yang dapat memberikan efek magis dan psikologis kepada pihak lain (tentang barang atau tempat suci).

Dengan demikian, secara bebas makam keramat dapat diartikan sebagai makam dari orang yang suci atau dianggap suci oleh masyarakatnya, atau makam dari orang yang bertakwa, atau makam dari orang yang semasa hidupnya memunyai kemampuan tertentu di luar kemampuan manusia biasa, khususnya kemampuan dalam bidang spiritual. Oleh karena itu, makam dari orang-orang awam biasanya tidak disebut makam keramat, meskipun barangkali makam orang awam tersebut tetap memiliki nilai kekeramatan tertentu bagi anaknya atau kerabatnya.

Makna Spiritual Ziarah ke Makam Keramat

Ziarah ke makam, baik yang keramat maupun tidak, berkaitan erat dengan unsur keagamaan. Makam, dalam banyak kebudayaan dan kepercayaan di seluruh dunia, menempati ruang spiritual yang istimewa, bahkan menjadi pusat kehidupan keagamaan di samping kuil-kuil pemujaan. Sebagai tempat dikuburkannya jasad orang yang sudah meninggal, makam dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh-roh orang yang meninggal itu. Berziarah ke makam merupakan cara untuk berhubungan kembali secara spiritual dengan roh-roh tersebut.

Ziarah ke makam juga berkaitan dengan kehidupan sosial. Orang yang ingin melakukan sesuatu atau kebutuhan tertentu, seperti membuka lahan pertanian, melangsungkan perkawinan, sampai berperang, merasa belum sah kalau belum meminta restu pada roh-roh nenek moyang. Roh-roh itu dipercaya dapat melindungi mereka, mengabulkan permohonan mereka, bahkan dapat pula menghukum kalau mereka melakukan pelanggaran.

Penghormatan kepada orang-orang yang telah meninggal diwujudkan dalam berbagai cara, misalnya mengadakan upacara kematian dengan ritual dan peralatan yang rumit, pembangunan kuburan secara mewah, di beberapa tempat disertai makanan dan harta untuk bekal perjalanan sang arwah, sampai pendirian kuil-kuil pemujaan.

Menurut Geoffrey Parrinder, yang dikutip oleh Zakiah Daradjat (Daradjat dkk, 1996: 43), pemujaan terhadap orang-orang yang telah meninggal atau telah mati terdapat di semua masyarakat. Karena itu kepercayaan terhadap hidup setelah mati ini bersifat universal dan merupakan salah satu bentuk kuno dalam kepercayaan di kalangan suku-suku primitif. Di Cina, pemujaan dan penyembahan terhadap para leluhur adalah pemujaan yang sangat kuno dan merupakan salah satu unsur yang paling diutamakan dalam agama Cina. Di Yunani, terdapat kepercayaan bahwa arwah leluhur tinggal di makam-makam dan memiliki kekuasaan atas baik dan buruk, sakit, dan mati. Begitu pula di Jepang, Mesir, Babylonia, Eropa, termasuk suku-suku di Indonesia (Daradjat dkk, 1996: 41-42).

Praktik pemujaan terhadap arwah para leluhur, yang di antaranya dilakukan dengan persembahan korban atau pemberian sesajen, memang tidak selalu dilakukan di makam. Dalam kebudayaan tertentu, arwah leluhur itu dipercaya bisa ada di mana-mana, di hutan-hutan, kampung, sawah, pohon, sampai di rumah (Daradjat dkk, 1996: 42), dan praktik pemujaannya pun bisa dilakukan di tempat-tempat tersebut. Meskipun demikian, kedudukan makam tetaplah menempati posisi yang paling penting.

Pada masa sekarang pun sisa-sisa kepercayaan tersebut masih bisa dijumpai di beberapa kebudayaan, khususnya di suku-suku yang kebudayaannya masih primitif. Di Melanesia, terdapat cara menghubungi roh leluhur yaitu setelah selesai penguburan mayat, mereka lalu mengambil suatu kantong dan sebatang bambu yang panjangnya kira-kira lima sampai tujuh meter. Ke dalam kantong tadi ditaruhkan pisang, lalu mulut kantong diikatkan pada ujung bambu, dan kantong tersebut diletakkan tepat di atas kuburan si mati. Kemudian orang tersebut berharap dan meminta kedatangan roh sambil memegang ujung sebelah bambu tadi. Nama orang yang baru saja meninggal dipanggil-panggil (Daradjat dkk, 1996: 44-45). Di Dayak Kalimantan, terdapat kebiasaan menghubungi roh orang yang sudah meninggal dengan cara tidur di atas kuburan-kuburan sambil mengharap-harapkan mendapatkan keberuntungan (Daradjat dkk, 1996: 45).

Kehadiran agama-agama formal, seperti Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, dan Islam, yang masing-masing memiliki tempat pemujaan atau rumah ibadah, tidak melenyapkan fungsi spiritual dari makam. Malah banyak di antara tempat ibadah itu yang didirikan di atas makam, atau makam yang dibangun di dekat tempat ibadah. Sehingga seringkali tidak dapat dibedakan ketika seseorang berada di rumah ibadah, apakah ia hanya melakukan sembahyang di rumah ibadah tersebut ataukah berziarah ke makam, ataukah kedua-duanya.

Sebagai contoh, Nabi Muhammad Saw. dimakamkan di dekat masjid Nabawi Madinah, dan makam raja-raja Banten berada di dalam Masjid Agung Banten. Selain itu, di makam-makam tempat ziarah terutama yang besar dan ramai hampir selalu didirikan masjid, misalnya di makam Sunan Gunung Jati Cirebon dan makam Syekh Mansur Pandeglang. Ini menandakan bahwa tempat ibadah (masjid) dan makam (khususnya makam dari orang tertentu) memiliki fungsi spiritual yang beririsan.

Dalam Islam, aktivitas ziarah ke makam keramat berkaitan erat dengan konsep kewalian atau kesucian. Para nabi, wali, dan orang-orang suci atau orang-orang yang dikenal memiliki ketakwaan tinggi dipercaya memiliki tempat mulia di sisi Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah di dalam Alquran surat al-Hujurât [49] ayat 13, yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Menurut Muhaimin AG (dalam Supriatno, 2007: xv), Ketakwaan seorang nabi atau wali adalah model tentang orang yang telah menempuh hidup mulia sekaligus model untuk diteladani dan dijadikan panutan bagi orang yang ingin menempuh hidup mulia. Sebagai model, mereka layak dihormati. Penghormatan itu bisa mengambil berbagai bentuk, salah satunya dengan mengunjungi kuburannya tempat sang teladan diperistirahatkan untuk terakhir kalinya. Di sana, orang berdoa dan mendoakannya. Apabila doa mereka dikabulkan oleh Allah, maka tambahan pahala dan kemuliaan (karamah) dari doa itu akan mengalir kepada yang didoakan, dan menambah tumpukan pahala dan kemuliaan yang ada padanya yang sesungguhnya sudah penuh karena ketakwaan dirinya. Seakan tidak tertampung, akumulasi kemuliaan itu lalu meluber kepada penziarah yang sekaligus berdoa tadi. Luberan kemuliaan itulah yang disebut orang sebagai “barakah”. Barakah itu, bagi yang merasakannya, menggejala dalam berbagai bentuk seperti kemudahan usaha, perolehan keuntungan, terbebas dari derita, sembuh dari penyakit, hilangnya stres, ketenangan hidup, dan bentuk-bentuk lain.

Tempat-tempat Ziarah Keramat di Kabupaten Pandeglang

Kabupaten Pandeglang terletak di provinsi Banten. Luas wilayahnya adalah 2.193,58 Km2. Wilayah kabupaten Pandeglang berbatasan dengan kabupaten Lebak di sebelah Timur, kabupaten Serang di sebelah Utara, Selat Sunda di sebelah Barat, dan Samudera Indonesia di sebelah selatan. Pada tahun 2000, jumlah penduduknya mencapai 2.933.900 jiwa.

Mayoritas penduduk Pandeglang menganut agama Islam, dan coraknya dapat digolongkan ke dalam Islam tradisional. Di sini, penghormatan terhadap ulama atau kiyai menempati posisi yang tinggi, termasuk ketika ulama tersebut sudah meninggal dunia. Makamnya akan banyak diziarahi oleh murid-muridnya, masyarakat sekitarnya, bahkan masyarakat dari luar daerah, bergantung pada “kaliber” atau lingkup ketokohan ulama tersebut.

Tradisi keagamaan masyarakat Pandeglang tidak berbeda dengan tradisi keagamaan di provinsi Banten pada umumnya, termasuk dalam hal ziarah ke makam keramat. Di antara makam keramat di daerah Pandeglang yang banyak diziarahi oleh masyarakat, termasuk masyarakat dari luar daerah, antara lain:

1. Makam Syekh Mansur di Cikadueun

2. Makam Syekh Abdul Jabbar di Karangtanjung

3. Makam Syekh Asnawi di Caringin

4. Makam Syekh Daud di Labuan

5. Makam Syekh Rako di Gunung Karang

6. Makam Syekh Royani di Kadupinang

7. Makam Syekh Armin di Cibuntu

8. Makam Abuya Dimyati di Cidahu

9. Makam Ki Bustomi di Cisantri

10. Makam Nyimas Gandasari di Panimbang.

Aktivitas ziarah ke makam-makam keramat tersebut biasanya meningkat tajam pada bulan Mulud (Rabiul Awal, bulan lahirnya Nabi Muhammad Saw.), menjelang bulan Ramadan, sehabis Lebaran, pada malam Jumat, dan pada hari-hari libur. Tetapi pada hari-hari biasa pun selalu ada saja orang yang berziarah. []

Pustaka:

Azra, Azyumardi, 1999, Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah Wacana dan Kekuasaan, Bandung: Rosda

Daradjat, Zakiah, dkk., 1996, Perbandingan Agama, Jakarta: Bumi Aksara

Dhofier, Zamakhsyari, 1982, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, cet. ke-6, Jakarta: LP3ES

Jalaluddin, 1996, Psikologi Agama, cet. ke-6, Jakarta: Rajawali Pers

Tim Penyusun, 1990, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. ke-3, Jakarta: Balai Pustaka

Supriatno, 2007, Ziarah Makam Sunan Gunung Jati di Mata Orang Kristen, Cirebon: Fahmina Institute

About these ads

35 thoughts on “Ziarah ke Makam Keramat di Kabupaten Pandeglang Banten

  1. no comment cuma nanya alamat lengkap makam syekh Abdul Jabbar . terima kasih.

    Asep:
    Makam Syekh Abdul Jabbar ada di kecamatan Karangtanjung. Dari kota Serang, naik bis jurusan Labuan, turun di depan makam Syekh. Lokasinya setelah kantor kecamatan Karangtanjung, lewati pabrik Sosro/Ades, sebelum pom bensin Kadubanen. Letaknya sebelah kanan.
    Dari Rangkas, ke pom bensin Kadubanen (perempatan), belok kanan terus sekitar 2 km. sebelah kiri. Semoga sampai.

  2. cerita waktu ke makam syekh asnawi di caringin terdapat kesan komersil dan sangat disayangkan dengan kondisi sprti skarg yg mana masyarakatnya sdh lebih mengenal agama islam umumnya.

    • Salut..Kang Asep sangat bijak dalam memberikan komentar, menandakan wawasan dan pengetahuan yang cukup mumpuni.
      sebaiknya untuk VR tidak asal memberikan komentar seperti ini bila tidak mengetahui culture /sejarah perkembangan Islam di Banten.

  3. tulisannya bagus mas. sreg dibaca.
    kebanyakan artikel ngambil sudut pandang fiqh sih. kalo tulisan ini kan lebih ke arah sosial humaniora. jarang ada tulisan kayak begini.
    Tapi, mas, apa benar orang di banten menolak untuk dikatakan memuja para wali atau arwah leluhur ? itu kayaknya orang-orang paham agama saja yang nolak. kalo yang awam gimana tuh ?
    oia, kalo di pandeglang, selain makam, tempat lain yang diziarahi apa lagi mas ?
    Trims.
    Ditunggu lagi tulisan yang terbaru

    Asep:
    Terima kasih. Tulisan ini mulanya hendak dijadikan skripsi di Fakultas Psikologi, tapi kata dosen pembimbing terlalu antropologis. Jadinya skripsi saya diganti judulnya, dan penelitian ttg tema ini batal dilakukan. Makanya itu kemudian saya tergelincir pada generalisasi tanpa data: bahwa orang-orang Banten menolak kalau dikatakan memuja orang-orang yang telah mati. Kalau yang ziarah orang-orang santri, tentu mereka tidak memuja orang mati. Kalau orang awam, saya tidak tahu. (Jadi saya tidak bisa jawab pertanyaan anda). Tapi dugaan saya, kebanyakan mereka juga tidak memuja orang mati.

    Tempat selain makam yang diziarahi adalah tempat persinggahan tokoh besar, misalnya Situs Batu Quran di Cibulakan, konon tempat munculnya Syekh Mansur ketika pulang dari Mekah lewat sumur Zamzam.

    Demikian. Sejauh ini saya belum punya niat menulis tema serupa.

  4. Assalamuallaikum………..

    Saya hanya mau berbagi informasi, di daerah Rangkasbitung juga ada makam yang dikeramatkan, disana makam2 keramat tersebut cukup banyak, tapi yang pernah saya datangi adalah makam :
    1. Ki Buyut Syaikh Raden Aria Bogana
    2. Ki Buyut Syaikh Raden Aria Mendung
    3. Ki Buyut Syaikh Aria Mangunyuda

    Ket : ketiga Syiakh ini saudara kandung, dan ketiganya di makamkan di darah Rangkasbitung, sewaktu saya rutin kesana, belum begitu banyak masyarakat sekitar yang mengetahui makam2 keramat ini, barulah setelah bulan Maulid kemarin (sekitar bulan Maret 2010), ketika saya kembali berziarah ke makam tsb bersama beberapa orangbteman, ternyata saya dan teman harus mengantri untuk berziarah.
    Mungkin ini bisa menjadi referensi untuk para sedulur2 yang lain.

    Asep:
    Wah, terima kasih banyak informasinya. Insya Allah bermanfaat.

  5. Kenapa ya kalo di tempat2 keramat di daerah Kulon (Jawa Barat & Banten) kok banyak sekali peminta2 dan bahkan ada yg maksa…?
    Agak beda dibandingkan dengan di daerah Jateng & Jatim.
    sebenarnya bersedekah memang bagus, tapi kalo dikuntit terus & dipaksa2 kok rasanya “gimana gitu”.
    Mirisnya lagi banyak sekali anak2 yg meminta2, tanpa orang tuanya atau orang dewasa di sekitar lingkungan keramat tersebut yg melarang.
    Sepertinya butuh ditertibkan dengan baik, dikasih pengertian bahwa “tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah”.
    Belum lagi adanya “Calo doa” yg menyatakan doanya lebih afdhal daripada orang lainnya, bahkan pengalaman pribadi di Makam Maulana Hasanudin, ketika saya di dalam cungkup makam ditarik Oknum yg menyatakan bahwa doa di makam sebelah Maulana Hasanudin lebih makbul, kemudian ada yg narik lagi & menyatakan doa di makam yg sebelahnya lagi lebih makbul. Akhirnya saya ke luar & memilih sendirian, bertafakur saja daripada nuruti “Calo Doa” tersebut. Belum lagi peti2 uang sedekah yg ditunggui Oknum2 tertentu.
    Waduh….sungguh miris….
    Mohon dimaafkan, ini hanya uneg2 pribadi, semoga ada pemecahan yg bijak.
    Tks

    Asep:
    Memang, saya kira itu keluhan dari banyak peziarah. Pemecahannya saya kira perlu dimulai lewat pertemuan seluruh pihak yang berkepentingan (stake holder) tempat ziarah (pemerintah, keluarga ahli waris, masyarakat sekitar, peziarah, dll). Terima kasih.

  6. sy tinggal di serang, banten, memang komplek pemakaman sultan hasanuddin, banten, terlihat tidak terawat, hal bisa dilihat dari kebersihan, dan kenyamanan ironis dengan iuran yang memaksa dihampir tiap belokan, jika dikelola dengan benar iuran itu bukan saja bisa sekedar menjaga kebersihan tp juga merenovasi, bukan cuma itu hal ini bisa juga menjadi industri pariwisata banten, tp hal ini susah dilakukan karena pemda-nya tdk tanggap, bukan cuma di mesjid agung banten, tp hampir seluruh penjiarahan, pariwisata di banten sangat berlebihan dlm mengambil iuran yg tdk sesuai dgn keadaan

  7. mohon tampilkan riwayat para tokoh2 yg turut serta dalam membangun banten y…..
    contoh : Riwayat Ki Abu Putih, Sapu Jagad, Ki Astra yg letaknya di Desa Tirtayasa Kabupaten Serang (karena sebagian narasumber sdh banyak meninggal dunia sehingga yg ditakutkan rantai sejarah terputus dan jadi fiksi ceritanya)

    thx……

    Asep:
    Waduh, saya tidak tahu. Saya menulis ini hanya berdasarkan referensi buku.

  8. mas tolong saya dicarikan makam Syeh Malabar yang katanya ada didaerah banten.penting banget!! terima kasih.

    @Wah, maaf ya, sy jg tidak tahu.

    • saya jg sudah pernah dengar tentang syeh malabar,,,mungkin di daerah pegunungan malabar di jawa barat itu…

  9. Kang asep, boleh saya minta alamat yg jelas para ulama yg kang asep sbutkan d atas, sy ga tau btul alamatnya, trimakasih, juga tentang artikelny sungguh sngat luar biasa, sy brharap kl bsa yg lbih terperinci lg tntang alamatny d mana siapa keturunannya yg msih hidup, sukses trus. Amin

    @Maaf tidak bisa bantu, permintaannya cukup berat.

  10. tawassulan … memang bkn menyembah org yg sudah mati, tp alangkah naif nya jika seseorang menganggap tawasul tdk diprbolehkan atau malah mengharamkan, islam modern muncul siapa gurunya? siapa pendahulunya? siapa yg memperjuangkan syiar islam terdahulunya? islam modern diibaratkan makan kacang lupa kulitnya!!!
    minimal harus tau dong tokoh2, syeh2 atau aulia pendahulu yg mengajarkan islam sehingga islam berkembang pesat supaya kita ga dibilang org dusun/gagap.

    Sy orang awam kok tp tau beberapa makam karomah dibanten diantaranya :

    1. Maulana Hasanudin – Banten
    2. Maulana Yusup – Banten
    3. Syeh Nawawi – Tenara
    4. syeh muhamadsholih – Gg. Santri Bojonegara Cilegon
    5. Syeh Rako (Simperem) = Gg. Karang
    6. Syeh Ki Karan = Gg.Karang
    7. BantenGirang
    dll ..

  11. yg di tekankan pada ziarah adalah sedekah kpda ahli waris atw pribumi, menghormati pada perjuangan nya dlam membawa islam hingga berada di antara qt skarang ini krna jika tidak ada para ulama dan waliyullah maka islam tidak pernah ada di antara kita, tafakur terhadap diri pribadi krna sesungguhnya mahluk ciptaan-Nya akan kembali pada-Nya (kita akan meninggal) tidak ada kekuatan apapun yg membuat abadi krnan sesungguhya Gusti ALLAH SWT yg maha Abadi, jd yg berilmu dn mempunyai keturunan atau kelebihan skalipun akan wafat apalgi kita yg bnyak dosa! jdikan jiarah sebagai tafakur diri agar mnjadi manusia yg lebih baik …

    maaf jika ada kesalahan karna sya jg manusia doif yg bnyak kesalahan….
    daripada saling menyalahkan mari kita instropeksi diri dulu…

    • betul instropeksi diri aja dulu…. diatas langit masih ada langit. klo sudah membudaya mau dikata apa.wong semuanya masalah prinsip ko.

  12. Maaf,, saya hanya ingin tau katanya di banten ada makam keramat bapung kaldam,, mohon iformasinya. Terima kasih.

    @Waduh, maaf, saya sendiri belum pernah mendengar nama itu. Jadi tidak bisa bantu info. Terima kasih telah berkunjung.

  13. maf,kg asep,? saya tambahin; nyi mas gamparan;di ciseukeut,arah tanjung lesung.kurang lebihnya saya mohon ma’af,triems?

    @Oh, makasih kawan. Pengetahuan saya juga kurang banyak :)

  14. kang saya mau pinta tampilan poto abuya armin cibuntu klo ada mksh……….

    @Salam. Mohon maaf, saya tidak punya foto dimaksud.

  15. Asslmlkm…
    Mf kang asep..
    Sma cuma mo tanya almat,.. (he,he, kaya ayu ting-ting aja…)
    makam eyang jarimbang yg katanya ada di cibuah pandeglang banten,
    klu ada yg tau tlng ksh tau rute nya.. Saya dari karawang…
    Makasih sblum ny….

    @Maaf Cep Tony, mgkn bisa tanya ke orang yang lebih tahu dripada saya. Ini linknya: http://goermunsorif.blogspot.com/.

    • mf…klo mo ke makam syekh jarimbang, klo dari rangkas bitung lebak, naik yang ke arah pandeglang krang lebih 22 Km turun di daerah sabi ( cibuah liwat dikit/perbatasan lebak-pandeglang) dri situ nyebrang masuk kesebelah knan kra2 1km

  16. Oke, mklah ini hanya deskripsi lapangan, ga da smpulan. Sbgai tmbahan : orng yg ga snang ziarah qubur (baca: klmpok MUKAFFIRIN, mu’jibin bi anfusihim) biasanya mengklaim bhw ziarah kubur tu pnyembahan. Klaim dmkian tdk terlalu salah, namun harap mereka terjun lapangan sndiri, agar tdk gampang men GENERALISIR sprti itu. ya kan Mas asep ???
    Bagi shbt H4d1, Maqam Syeikh Muhammad Nawawi Banten bukan di Tenara, melainkan di Mekkah. Yg di tenara tu mawlid (tempat lahir) beliau.

  17. punten<: Makam NYI MAS RARA SANTANG atau NYI MAS RATU GAMPARAN (GUMPARO) dan Makam TUBAGUS BAOK (KI BAOK) ada di Desa Kadu Kacapi Kec. Ciomas. Rute Pasar Ciomas lurus dan kira2 200 meter belok ke kiri kurang lebih 2 km ketemu Desa Kadu Kacapi. Dua-duanya pejuang di Era Sultan MAULANA HASANUDDIN dan merupakan makam keramat. dibawah makam Nyi Mas Ratu Gamparan terdapat sumber mata air. Sy pernah ziarah di sana, semoga membantu.

  18. mikum……?
    maaf kang asep saya mau tanya alamat “abuya armin cibuntu pandeglang”, kalo saya naek motor, alamat saya di kronjo deket pulo cangkir, minta petunjuk jalannya, sebelumnya saya ucapkan terimakasih…..!
    assalammualakium…………………… di tunggu jawabanya

  19. ass wr wb.
    mau tanya klo mau ziarah ke tempat syeh nawawi di pandeglang lewat mana y?? kt bnyak yang kesitu, tolong kasih tau tempatnya, rutenya, secara lengkap.
    trma ksh atas bantuanya
    ass wr wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s