Ciputat, 29 September 2009

KancilKita orang Indonesia pada umumnya pasti pernah mendengar dongeng kancil; bagaimana ia dengan cerdiknya menipu harimau, memerdaya serigala, mengadali buaya, dsb. Tapi seberapa banyakkah di antara kita yang pernah melihat hewan kancil secara langsung dengan mata kepada sendiri?

Saya pernah beberapa kali berekreasi ke kebun binatang Ragunan, tapi saya tidak pernah melihat kancil. Mungkin karena waktu itu saya tidak menyengajakan diri menemui kancil, sementara kebun binatang Ragunan teramat luasnya. Beberapa teman yang kebetulan pernah ke Ragunan pun menggeleng jika ditanya apakah pernah melihat kancil. Makanya sampai sekarang saya tidak tahu apakah di Ragunan ada kancil atau tidak. Mestinya ada, sebab kancil adalah hewan asli Indonesia.

Saya baru melihat kancil justru belum lama ini, akhir Juni 2009, di daerah kelahiran saya sendiri. Tepatnya di Taman Air Cikole, kecamatan Maja, kabupaten Pandeglang. Nama resminya Cas Waterpark Cikole, lebih lazim disebut “Cikole” saja oleh masyarakat. Koleksi hewan di Taman Air Cikole tidak banyak, karena tempat ini, sesuai namanya, intinya adalah kolam renang. Selebihnya wisata keluarga dengan beragam permainan untuk anak-anak dan dewasa, sarana outbond, tempat makan dan jajanan, saung tempat gelar tikar, dan tentu saja sejumlah kandang dengan hewan-hewan di dalamnya.

Dongeng Kancil dan Buaya

Taman Air (saya lebih suka menyebutnya begitu; atau Kebon Cai kalau dibahasasundakan) Cikole belum lama dibangun. Saya kira baru pada awal 2009 ini mulai dibuka untuk umum. Ketika saya pulang kampung pada Juni lalu, adik saya bercerita bahwa ada tempat berenang yang sangat mengasyikkan dan selalu ramai, bahkan melebihi ramainya Cikoromoy, dan di situ ada kancil.

“Kancil?!”

Ketika saya lihat, ternyata hewan itu mungil sekali dan lucu. Perawakannya kira-kira seukuran kucing, tapi saat itu pikiran saya lebih teringat pada tikus besar yang sering melintas di depan kontrakan saya di Ciputat. Bentuk dan tekstur badannya hanya bisa saya gambarkan dengan istilah Inggris dari hewan ini: mouse deer (harfiahnya berarti rusa tikus; suatu petunjuk linguistik yang menandakan bahwa kancil tidak ada di Eropa dan Amerika). Kancil dapat dibayangkan sebagai miniatur dari rusa (atau kijang atau menjangan; saya tidak tahu ketiga hewan itu identik ataukah beda sedikit), seperti halnya kucing bagi harimau. Kebanyakan kita tentu juga belum pernah melihat rusa sungguhan, tapi sosok rusa sering muncul di layar kaca.

Yang paling lucu dari kancil adalah kakinya; nyaris seperti ranting kering atau malah lidi, dari jari-jari sampai ke paha hampir tidak berisi daging sama sekali, tampak tidak proporsional menyangga pinggul dan bahunya yang agak berisi.

Tentang kaki ini, saya teringat sebuah kisah yang sangat populer antara kancil dan buaya. Suatu hari kancil tengah minum di tepi sungai, tiba-tiba kakinya digigit buaya. “Tunggu, itu bukan kakiku,” kata kancil seraya menyodorkan sebatang ranting. “Ini kakiku.” Buaya tertipu, dilepaskanlah olehnya kaki kancil yang asli untuk ditukar dengan ranting. Kancil selamat dan lekas lari ke darat.

Yang bikin saya geli, bagaimana mungkin kaki kancil yang kecil itu bisa digigit buaya? Jika buaya berniat menerkamnya, tentulah yang kena bukan hanya kakinya, tapi seluruh tubuhnya akan langsung amblas ditelan.

Sambil terus memerhatikan, pikiran saya terheran-heran bagaimana kancil bisa diimajinasikan sebagai tokoh segala cerdik di antara para binatang. Dengan kecerdikannya, si mungil ini bisa mengalahkan harimau. Kancil diceritakan selalu mampu menyelamatkan diri dari incaran binatang buas, bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Kancil tidak pernah kehilangan akal bahkan saat nyawanya tengah tersorong di antara taring tajam.

Sejak lama saya memikirkan hubungan hewan-hewan tertentu dengan karakter-karakter khas yang biasa dilekatkan padanya dalam fabel (dongeng binatang) dan ungkapan masyarakat. Mengapa kancil cerdik, musang licik, ular licin, serigala jahat, gajah bijak, kerbau bodoh, merak angkuh, monyet serakah, anjing setia, kucing malas, dsb. Sebagian memang ada yang logis. Tapi sebagian lagi, ah, namanya juga dongeng. Yang penting asyik dan bisa dipakai mengantar tidur, cukuplah.

Selain kancil, yang jumlahnya ada sepuluh ekor menurut keterangan di dinding kandang, saya pun melihat hewan-hewan lain koleksi Taman Air Cikole. Ada ular piton; dua ekor, menyambut kita di dekat pintu masuk. Tapi kerjanya melingkur saja, sedikit sekali bergerak. Lainnya adalah ayam kate, ayam mutiara, kera berekor pendek, kera berekor panjang, tupai, kalkun, dan beberapa jenis hewan yang saya lupa namanya.

Saat mudik lebaran kemarin, awalnya saya berencana bertamu kembali kepada si kancil. Pada hari ketiga lebaran, saya melewati tempat itu bersama si bungsu dengan mengendarai motor. Tapi lokasi Taman Air terlalu sesak oleh pengunjung, bahkan jalanan di sekitarnya macet hingga satu kilometer. Saya tidak jadi masuk.

Lagi pula saya tertarik mengunjungi kolam renang yang baru dibuka di kampung Lebakseureuh kecamatan Karangtanjung. Maka setelah mengunjungi kerabat di kelurahan Kadomas, saya melarikan motor ke sana bersama Nida si bungsu dan sepupu. Kolam renang itu dinamai “Atlit”. Tempat ini ramai juga, meski tidak seramai Cikole. Harga tiketnya 10 ribu, tapi ini harga khusus lebaran. Hari biasa cuma lima ribu. Harga tiket masuk Taman Air Cikole pun sama. Bulan Juni lalu saya membayar lima ribu, tapi saat lebaran saya dengar jadi sepuluh ribu.

Beberapa Pikiran untuk Kemajuan Pariwisata Pandeglang

Melihat ada dua tempat wisata kolam renang dibangun pada waktu yang berdekatan, saya menduga pemerintah kabupaten tengah menggalakkan program pariwisata secara lebih serius untuk “memancing” orang-orang agar meramaikan Pandeglang. Saya senang dengan program semacam ini. Oleh karena itu, saya ingin mengajukan beberapa pikiran berikut:

Pertama, kolam pemandian Cikoromoy perlu dibenahi agar lebih rapi dan nyaman bagi pengunjung. Berbeda dengan Taman Air Cikole dan Atlit Lebakseureuh, Cikoromoy adalah tempat wisata yang sekaligus memiliki nilai sejarah karena letaknya berdekatan dengan petilasan Batu Quran di Cibulakan. Sejauh ini, tampaknya Cikoromoy masih dikelola secara tidak terkoordinasi. Kolam renangnya cuma dua dan kedalamannya serba tanggung. Tidak ada kolam yang cukup dangkal untuk anak-anak di bawah enam tahun dan tidak ada yang cukup dalam untuk orang-orang dewasa. Tidak ada sarana bermain untuk anak-anak, juga tidak ada saung atau tempat yang nyaman untuk menggelar tikar. Kalau Cikoromoy memiliki fasilitas-fasilitas seperti Taman Air Cikole dan Lebakseureuh, tentu pengunjung akan lebih betah berlama-lama.

Kedua, tiga tempat yang saya sebutkan di atas berkaitan dengan wisata air. Pandeglang memang daerah yang subur dengan mata air di banyak titik, juga pantai yang indah seperti Carita, Tanjunglesung, dan Sumur. Rasanya, tema air cukup menarik untuk dijadikan ikon promosi. Artinya, tema air itu dikampanyekan secara sadar, sistematis, dan gencar.

Ketiga, selain air, di Pandeglang banyak terdapat tempat ziarah, baik makam keramat maupun tempat persinggahan orang-orang besar zaman dahulu. Yang terkenal antara lain makam keramat Syekh Mansur di Cikadueun, Syekh Asnawi di Caringin, Nyimas Gandasari di Panimbang, Syekh Daud di Labuan, dan Batu Quran di Cibulakan. Saya pernah mengangkat soal ini dalam tulisan yang juga dimuat d blog saya, berjudul “Ziarah ke Makam Keramat di Kabupaten Pandeglang Banten”. Jika tempat-tempat ziarah itu dikelola secara profesional dan dipromosikan secara lebih gencar, fasilitasnya dilengkapi dan dibuat lebih nyaman, kemudian tokoh-tokoh masa lalu yang berhubungan dengan tempat ziarah itu diperkenalkan kepada khalayak serta dikisahkan mengenai sejarah dan perjuangannya, ini akan menjadi ziarah spiritual sekaligus wisata sejarah yang bermanfaat.

Keempat, jangan lupa perkenalkan pula pernak-pernik pendukung pariwisata seperti aneka makanan khas Pandeglang, kesenian tradisional, barang-barang kerajinan, tradisi unik, dan semacamnya. Dengan catatan, jangan asal klaim seperti Malaysia. Hal-hal tersebut kalau memungkinkan selalu disediakan di kawasan wisata. Tanpa promosi dan usaha yang disengaja, banyak orang Pandeglang sendiri akan tidak tahu hal-hal yang asli dari daerahnya. Saya sendiri misalnya, kalau ditanya apa makanan khas Pandeglang, terus terang hanya bisa menjawab dengan tidak yakin.

Kelima, untuk jangka panjang, pengenalan kebudayaan perlu dilakukan secara lebih intensif lewat jalur pendidikan. Sejak dini, anak-anak dikenalkan langsung ke pusat-pusat kebudayaan di daerahnya. Ini akan menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan kepada negeri sendiri, serta  menghindarkan mereka dari musibah ketercerabutan akar budaya manakala pendidikan dan pengalaman mereka semakin tinggi dan luas.

Keenam, khusus untuk pengelola Taman Air Cikole, keberadaan hewan kancil di sana dapat dijadikan ikon promosi tersendiri. Kancil sangat populer bagi anak-anak, tapi sayangnya ia bukan jenis hewan yang mudah dijumpai bahkan oleh mereka yang tinggal di hutan. Anak-anak pasti senang kalau diajak oleh orangtuanya, ”Ayo kita melihat kancil.”

Ayo. []

Penulis lahir di Cadasari Pandeglang tahun 1981. Lulus dari Fakultas Psikologi UIN Jakarta tahun 2009. Saat ini bekerja sebagai guru bimbingan konseling di Madrasah Pembangunan UIN Jakarta dan menjadi editor buku-buku pengajian di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta.

About these ads