Nukila Amal - Cala IbiSudut pandang termasuk unsur intrinsik dalam cerita berbentuk prosa, selain tema, alur, latar, dan penokohan. Dibandingkan unsur-unsur lainnya, eksperimentasi atau pembaruan sudut pandang jauh lebih lambat dicoba oleh para pengarang kita.

Selama ini teori sastra hanya mengenal dua macam sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Tidak ada teori tentang sudut pandang orang kedua. Mengapa seperti itu, barangkali bisa dibayangkan dari pengandaian di bawah ini:

Misalnya seseorang, A, bercerita kepada temannya, B. Di sini umumnya ada dua kemungkinan: A menceritakan dirinya, misalnya dengan berkata, “Pagi ini aku berangkat pagi-pagi sekali.” Dalam hal ini, A menggunakan sudut pandang orang pertama (aku, saya).

Kemungkinan kedua, A menceritakan orang lain. Misalnya dengan mengatakan, “Tadi siang dia makan siang.” Di sini, A menggunakan sudut pandang orang ketiga (dia).

Mungkinkah A bercerita kepada B tentang B? Dalam keadaan normal, kejadian semacam ini sulit terjadi, sebab apa yang dialami B tentunya B lebih tahu. Hal itu seperti mengharapkan pendongeng di pasar bercerita kepada para pendengarnya tentang diri para pendengarnya. Atau seperti pengarang novel bercerita kepada pembaca tentang diri pembaca. Jelas para pendengar dongeng dan pembaca novel lebih paham tentang diri mereka sendiri ketimbang pendongeng dan pengarang novel.

Itu pengandaian awal atau state of nature (keadaan asali)-nya.

Bagaimana praktiknya?

Kembali ke pengandaian. Bisa saja B kehilangan informasi tentang dirinya atau kejadian-kejadian yang dialaminya, karena misalnya ia pingsan atau tertidur, lalu ia meminta keterangan kepada A. Mungkin A akan menginformasikan, “Waktu tidur tadi kau berjalan keluar kamar, tapi matamu meram.”

Kondisi terakhir ini dapat melahirkan sudut pandang orang kedua (kau, kamu), asalkan A konsisten tidak menyebut dirinya sebagai “aku”. Dalam bentuk cerita (novel, cerpen), pembaca hanya akan melihat B yang disapa dengan ”kau”, sedangkan A tidak terlihat dan kemungkinan akan dianggap oleh pembaca sebagai pengarang, penutur, atau penulis cerita.

Jika A tergoda untuk memasukkan dirinya ke dalam peristiwa, misalnya dengan menambahkan, “Lalu aku menepuk pundakmu,” maka sudut pandang berubah menjadi orang pertama. Tetapi sudut pandang akan tetap orang kedua jika A menceritakan dirinya tidak dengan kata ganti orang pertama, misalnya dengan mengatakan, “Lalu seseorang menepuk pundakmu.”

Dari pengandaian di atas, dapat dimengerti jika sudut pandang orang kedua jarang sekali dipraktikkan oleh para pengarang dalam penulisan karya mereka. Tetapi ada juga beberapa novel yang menggunakan sudut pandang orang kedua. Setidaknya saya menemukan tiga novel, yakni Dadaisme (Dewi Sartika, 2004), Cala Ibi (Nukila Amal, 2004), dan Kabar Buruk dari Langit (Muhiddin M. Dahlan, 2005). Sayangnya, sudut pandang orang kedua pada ketiga novel ini tidak utuh atau tidak sepenuhnya dipakai dalam keseluruhan novel.

Dadaisme, pemenang sayembara novel DKJ 2003, menggunakan tiga macam sudut pandang sekaligus. Hampir pada tiap bab terjadi perubahan sudut pandang. Tokoh yang sama, dalam bab yang berbeda, bisa dipanggil dengan namanya (dia), menceritakan dirinya sendiri (aku, saya), atau disebut sebagai kau (atau kamu). Begitu pun sudut pandang yang sama sering dipakai untuk merujuk tokoh-tokoh yang berbeda. Namun pembaca tidak mendapatkan penjelasan atau rasionalisasi, tersirat maupun tersurat, mengapa perubahan sudut pandang itu begitu gampang dan sewenang-wenang. Dan perubahan penyebutan itu pun tampaknya tidak menimbulkan efek apapun selain kebingungan.

Cala Ibi memakai dua sudut pandang: orang pertama dan orang kedua. Sebutan ”aku” dipakai saat menceritakan tokoh Maya, sebutan ”kau” dipakai saat menceritakan tokoh Maia. Maia adalah sosok dalam mimpi Maya, dan sepertinya merupakan alterego dari kepribadian Maya. Dua karakter ini berbagi ruang dalam novel dengan porsi yang hampir sama. Jadi seakan-akan ada dua cerita dalam novel ini dengan kedudukan yang sejajar. Sebutan ”kau” untuk Maia tampaknya dimaksudkan untuk membedakannya dengan Maya.

Kabar Buruk dari Langit sebetulnya hampir konsisten dengan sudut pandang orang kedua yang dipakainya. Namun konsistensi itu terganggu dua kali. Di bagian agak awal, muncul seorang Zora yang menceritakan hubungan dirinya dengan tokoh utama lewat sudut pandang orang pertama (Zora menyebut dirinya ”aku” dan menyebut ”kau” kepada tokoh utama yang adalah suaminya). Lalu di bagian akhir, muncul Kiai Khudori yang ternyata adalah orang yang dalam hampir keseluruhan novel menyebut ”kau” kepada tokoh utama. Di bagian-bagian sebelumnya, Kiai Khudori, berperan sebagai kawan dari tokoh utama, diceritakan dengan kata ganti orang ketiga. Rupanya pengarang novel ini tidak tahan untuk tidak memberitahukan kepada pembaca siapa sebenarnya penutur cerita. Novel Kabar Buruk dari Langit jadinya lebih merupakan cerita berbingkai dengan Kiai Khudori sebagai tokoh-dalam-bingkai. Bedanya dengan cerita berbingkai lain, di novel ini tokoh-dalam-bingkai memanggil tokoh-dalam-cerita dengan sebutan ”kau”.

***

Ciri-ciri sudut pandang orang kedua dalam tiga novel di atas tampaknya berbeda dalam beberapa segi dengan pengandaian yang diberikan di awal tulisan ini. Satu hal segera menjadi jelas: sosok ”kau” dalam novel yang menerapkan sudut pandang orang kedua bukanlah pembaca. Ia adalah tokoh cerita seperti halnya tokoh-tokoh dalam novel-novel dengan sudut pandang lain. Hal ini tidak masalah karena sebuah novel memang memerlukan tokoh.

Kemudian mengenai penutur cerita atau orang yang menyebut “kau” kepada sang tokoh, siapakah ia? Dalam Dadaisme, penutur cerita dalam bab-bab yang menggunakan sudut pandang orang kedua bisa dipastikan adalah pengarang novel. Hal ini sama dengan bab-bab yang menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dalam Cala Ibi, orang yang menyebut “kau” kepada Maia adalah Maya sendiri. Di bab pertama diceritakan bahwa Maya mencatat mimpi-mimpinya ke dalam sebuah buku harian. Dalam Kabar Buruk dari Langit, ia adalah tokoh cerita juga, yakni Zora dan terutama Kiai Khudori.

Dilihat dari sisi ini, sudut pandang orang kedua tidak berbeda jauh dengan sudut pandang orang ketiga. Sosok penutur cerita pada umumnya tidak terlihat oleh pembaca alias berada di luar cerita, namun kadang-kadang dapat masuk ke dalam cerita. Sedangkan pada sudut pandang orang pertama, penutur cerita (sosok ”aku”) selalu merupakan tokoh cerita, entah sebagai tokoh utama ataupun bukan.

Segi lain, dan ini yang paling penting. Sudut pandang orang pertama digunakan ketika pengarang ingin menampilkan karakter tokoh ”aku” secara lebih mendalam hingga ke dasar batinnya. Sudut pandang orang ketiga digunakan ketika pengarang ingin menceritakan sejumlah tokoh tanpa harus terhambat jika pedalaman batin tokoh-tokoh itu ingin ia ungkapkan kepada pembaca. Lalu maksud apa yang ingin dicapai pengarang ketika ia memakai sudut pandang orang kedua?

Dari tiga contoh novel yang tersedia, lagi-lagi sudut pandang orang kedua lebih menampakkan kemiripan dengan sudut pandang orang ketiga, yakni penutur yang tahu segala, baik isi pikiran tokoh utama maupun tokoh-tokoh lain. Tetapi hal ini sebenarnya menimbulkan kejanggalan. Yang menjadi pertanyaan, bolehkah penutur cerita masuk ke pedalaman batin tokoh yang dipanggil ”kau”? Sebab berdasarkan pengandaian awal, A tidak mungkin tahu apa yang ada dalam pikiran B. Boleh jadi A tahu banyak tentang karakter-karakter lain termasuk isi pikirannya. Tetapi tentang B, pengetahuannya dimungkinkan hanya pada hal-hal yang tampak saja pada diri B.

Perbedaan sudut pandang seharusnya menimbulkan perbedaan ”hasil pandang”, sebagaimana sebuah lukisan akan tampak beda dilihat dari tempat yang  berlainan. Maka pada segi inilah letak perbedaan hakiki di antara ketiganya. Penutur pada sudut pandang orang pertama hanya tahu pikiran si ”aku”; penutur para sudut pandang orang ketiga tahu segala hal; dan penutur pada sudut pandang orang kedua diizinkan untuk tahu segala hal, kecuali satu: pikiran si ”kau”.

Seperti dalam perbincangan sehari-hari, kita tidak akan tahu isi batin lawan bicara kita kecuali sebatas yang ia beritahukan atau ungkapkan kepada kita. Dengan demikian, sudut pandang orang kedua (kau) adalah kebalikan dari sudut pandang orang pertama (aku).

Seandainya kita pengarang novel dan hendak menerapkan sudut pandang orang kedua, dapatkah kita bayangkan menciptakan seorang tokoh yang kita sendiri tidak boleh masuk ke dalam pikirannya?

***

Sebetulnya masih ada tiga macam sudut pandang yang bisa dieksplorasi, yaitu sudut pandang orang pertama jamak (kami, kita), sudut pandang orang kedua jamak (kalian), dan sudut pandang orang ketiga jamak (mereka). Saya membayangkan, sudut pandang jamak ini menampilkan tokoh bukan sebagai individu atau pribadi tunggal, melainkan sebagai suatu kumpulan atau kerumunan. “Orang-orang desa”, “para penonton bola”, atau “sebuah keluarga” barangkali dapat disebut sebagai contoh dari tokoh jamak tersebut. Entah bagaimana jadinya jika diterapkan dalam novel.

Siapa mau coba? []

About these ads