Jika ada seorang laki-laki melakukan poligami dengan alasan bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki, maka dia keliru. Data terbaru hasil sensus penduduk 2010 yang dilansir BPS (klik di sini) menyebutkan, jumlah penduduk Indonesia adalah 237.641.326 (237,6 juta) jiwa, terdiri dari 119.630.913 (119,6 juta) laki-laki dan 118.010.413 (118 juta) perempuan. Artinya, jumlah penduduk laki-laki justru lebih banyak dengan rasio 101:100. Dibandingkan data sensus tahun 2000, rasio jenis kelamin laki-laki mengalami peningkatan satu poin dari sebelumnya 100:100. Rasio jenis kelamin pada hasil sensus sebelum-sebelumnya, sejak tahun 1971, juga tidak jauh beda, yakni di kisaran 97:100 sampai 99:100.

Di negara-negara lain, rasio jenis kelamin menunjukkan adanya variasi. Ada yang laki-lakinya lebih banyak, ada pula yang sebaliknya. Namun secara keseluruhan, rasio jenis kelamin penduduk dunia saat ini adalah 100:99 (lihat di sini). Jadi lebih banyak laki-laki satu poin.

Yang menarik, di negara-negara Timur Tengah yang mayoritas muslim, ternyata rasio laki-lakinya lebih besar. Padahal di sana banyak laki-laki mempraktikkan poligami.

Kaidah fikih menyebutkan, suatu hukum timbul karena adanya sebab (ilat); jika sebabnya tidak ada, maka hilang pulalah hukum tersebut. Oleh karena itu, orang yang berniat poligami harus mencari alasannya dari sebab lain. Dan untungnya hal itu tidak sulit dicari. Sebab memang biasanya orang mau poligami itu alasan utamanya nafsu. Nafsu ingin merasakan perempuan yang berbeda, nafsu ingin dianggap gagah dan jantan, nafsu ingin dianggap kaya, dsb.

Yang cukup mengherankan, saya pernah mengadakan poling kecil-kecilan kepada sejumlah teman dengan pertanyaan: mana yang lebih banyak, laki-laki atau perempuan. Ternyata hampir semuanya menjawab lebih banyak perempuan. Ketika ditanya berapa kira-kira perbandingannya, jawabannya variatif, dari 1:2, 1:4, 1:7, hingga 1:10. Wow!

Saya tahu mereka tidak punya data, walaupun sebagian mereka menyebut jawabannya sebagai hasil dari penelitian, baik dari perorangan maupun lembaga. Dalam hati saya ingin ketawa, sebab setahu saya tidak ada perorangan yang pernah melakukan penelitian mengenai jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang sebenarnya hanya bisa diketahui dengan sensus, dan sejauh ini, yang bisa melakukan sensus penduduk hanyalah lembaga dengan dana besar. Dalam hal ini antara lain BPS, karena lembaga ini mendapat biaya dari negara. Konon CIA juga melakukan pendataan penduduk dunia, dan mereka memang sebuah lembaga besar dengan dana yang juga besar.

Walaupun jawaban mereka jelas tidak berdasarkan data, saya jadi bertanya-tanya, mengapa anggapan bahwa jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki bisa muncul di masyarakat? Dan mengapa anggapan keliru itu terpelihara hingga dijadikan alasan bagi banyak pria untuk berpoligami?

Hmm. []

About these ads