Kelemahan Rider Santunan Kesehatan

  1. Manfaatnya tidak terlalu besar. Hanya mengganti biaya rawat inap dan pembedahan, tapi tidak untuk obat-obatan, padahal itulah komponen biaya berobat yang lebih dibutuhkan.
  2. Sistemnya reimburse (bayar dulu baru klaim), sehingga ini akan cukup merepotkan nasabah.
  3. Biaya asuransinya mahal. Hal ini karena potensi klaimnya sering, sedangkan rider lain paling banyak hanya satu kali klaim seumur hidup. Biaya asuransi yang mahal akan menggerus hasil investasi sehingga hasil investasi jadi tidak maksimal.
  4. Nilai santunan harian akan mengecil karena faktor inflasi. Sedangkan inflasi di sektor kesehatan termasuk tinggi. Biaya harian 500 ribu pada masa sekarang cukup untuk masuk kelas VIP, tapi 5 atau 10 tahun mendatang belum tentu cukup. Apalagi 20-30 tahun mendatang (karena unit link berlaku seumur hidup, atau sampai 65 tahun utk rider kesehatan), pasti kurang. Oleh karena itu besar santunan harian perlu ditinjau ulang kira-kira setiap 5 tahun, apakah masih layak atau tidak. Di unit link, memang besarnya santunan harian kesehatan bisa dinaikkan kapan saja (tinggal ngomong ke agen), tapi preminya akan naik pula. Apalagi mintanya beberapa tahun ke depan, di mana usia nasabah sudah bertambah.
  5. Tidak ada renewal guarantee (jaminan perpanjangan). Meski di ilustrasi bisa sampai 65 tahun, belum tentu pada kenyataannya demikian. Jika nasabah sering klaim (dirawat inap), ada klausul dalam polis yang menyatakan bahwa pihak perusahaan asuransi dapat menghentikan rider ini sewaktu-waktu, dengan pemberitahuan sebelumnya. Kalaupun tetap diperpanjang, maka biaya asuransinya akan dinaikkan lebih tinggi dari seandainya nasabah tidak pernah klaim.
  6. Rider ini dapat dijadikan alat oleh perusahaan asuransi untuk memantau kondisi kesehatan nasabah. Jika perusahaan asuransi tahu kondisi kesehatan nasabah memburuk (dari seringnya klaim rawat inap), maka biaya asuransi untuk asuransi dasar dan rider-rider lain pun sangat mungkin dinaikkan lebih tinggi dari seandainya nasabah tidak pernah klaim rawat inap. Bukan tidak mungkin cuti premi selewat tahun ke-10 akan batal akibat biaya asuransi bulanan yang naik melebihi perkiraan di proposal.

Kelemahan Rider Asuransi Kesehatan

Berbeda dengan santunan kesehatan (rawat inap harian), rider askes ini sistemnya cashless (pakai kartu), jadi bisa berobat gratis di RS tanpa harus bayar sama sekali, sepanjang masih dalam batas limit (untuk askes yang pakai limit). Manfaatnya pun lebih banyak daripada santunan kesehatan, yaitu biasanya menanggung pula kunjungan dokter, obat-obatan, ambulan, rawat gigi, rawat jalan, dll.

Tapi sama seperti halnya santunan kesehatan, askes yang digabung dengan unit link sebagai rider tak lepas dari kelemahan yang mirip.

  1. Biaya asuransinya paling mahal. Hal ini karena potensi klaimnya sering, sedangkan rider lain paling banyak hanya satu kali klaim seumur hidup. Biaya asuransi yang mahal akan menggerus hasil investasi sehingga hasil investasi jadi tidak maksimal.
  2. Tidak ada renewal guarantee (jaminan perpanjangan). Sejauh ini di Indonesia tampaknya belum ada asuransi kesehatan perorangan (termasuk yang nempel sebagai rider unit link) yang memiliki jaminan perpanjangan. Semua asuransi kesehatan merupakan produk tahunan, kecuali askes perusahaan. Meski di ilustrasi bisa sampai 65 tahun, belum tentu pada kenyataannya demikian. Merencanakan askes yang bisa berlaku sampai usia sesenja itu sama dengan meniatkan bahwa askes tsb tidak akan pernah dipakai. Jika nasabah sering memakai kartu untuk membiayai berobatnya di RS, ada klausul dalam polis yang menyatakan bahwa pihak perusahaan asuransi dapat menghentikan rider ini sewaktu-waktu, dengan pemberitahuan sebelumnya. Kalaupun tetap diperpanjang, maka biaya asuransinya akan dinaikkan lebih tinggi dari seandainya nasabah tidak pernah klaim.
  3. Nilai kelas kamar yang ditanggung akan mengecil karena faktor inflasi. Sedangkan inflasi di sektor kesehatan termasuk tinggi. Biaya rawat inap kelas kamar 500 ribu pada masa sekarang cukup untuk masuk kelas VIP, tapi 5 atau 10 tahun mendatang belum tentu cukup. Apalagi 20-30 tahun mendatang (karena unit link berlaku seumur hidup, atau sampai 65 tahun utk rider kesehatan), pasti kurang. Oleh karena itu kelas kamar perlu bahkan harus ditinjau ulang kira-kira setiap 5 tahun, apakah masih layak atau tidak. Di unit link, memang kelas kamar bisa dinaikkan kapan saja (tinggal ngomong ke agen), tapi preminya akan naik pula. Apalagi mintanya beberapa tahun ke depan, di mana usia nasabah sudah bertambah. Belum lagi kerepotan yang ditimbulkannya, seperti ada kemungkinan harus tes kesehatan lagi, dan akibatnya pada nilai investasi.
  4. Rider ini dapat dijadikan alat oleh perusahaan asuransi untuk memantau kondisi kesehatan nasabah. Jika perusahaan asuransi tahu kondisi kesehatan nasabah memburuk (dari seringnya pakai kartu cashless), maka biaya asuransi untuk asuransi dasar dan rider-rider lain pun sangat mungkin dinaikkan lebih tinggi dari seandainya nasabah tidak pernah klaim rawat inap. Bukan tidak mungkin cuti premi selewat tahun ke-10 akan batal akibat biaya asuransi bulanan yang naik melebihi perkiraan di proposal.

Alternatif Solusi

Lalu jika rider santunan/asuransi kesehatan dalam unit link tidak usah diambil, apa alternatifnya?

Jika anda karyawan di sebuah perusahaan, anda pasti dapat askes (ini sudah kewajiban perusahaan). Jadi yang jadi karyawan, beruntunglah anda. Askes itu (dari PT Askes, Jamsostek, maupun lainnya) biayanya murah, manfaatnya komplet (bisa rawat inap, rawat jalan, rawat gigi, kehamilan, atau sekadar minta obat ke klinik), bisa menyertakan istri/suami/anak, dll.

Tapi kan biasanya nilai kovernya kecil? Ya tidak apa-apa. Kalau dirasa masih kurang, sediakan dana cadangan untuk mengantisipasi kalau-kalau harus nambah ketika berobat di RS.

Bagaimana kalau bukan karyawan perusahaan sehingga tidak punya askes sama sekali, sementara di unit link tidak disarankan? Lakukan salah satu atau sekaligus dari dua saran ini:

Pertama, ambil asuransi kesehatan murni (bukan rider unit link).

Kedua, siapkan dana cadangan. []