Posted on 2 February 2010 by Asep Sofyan

Nasihat berikut ini ditujukan baik untuk laki-laki maupun, dan terutama, untuk perempuan:
Jika seseorang menyukaimu sedangkan kau tidak menyukainya, jangan rendahkan harga dirinya sebab bagaimanapun ia tidak bermaksud jahat kepadamu.
Jika ia tersenyum padamu, tersenyumlah juga padanya. Jika ia berpapasan denganmu, janganlah menghindar. Jika ia menyapamu, jawablah sapaannya. Jika ia menanyakan nomor teleponmu, berikanlah. Jika ia mengirim sms padamu, balaslah. Jika ia meneleponmu, angkatlah. Jika ia memberi sesuatu kepadamu berupa hal-hal kecil, terimalah pemberiannya dan ucapkan terima kasih secara wajar. Read more »
Filed under: Psikologi | Tagged: cinta, nasihat, perempuan, Psikologi | Leave a Comment »
Posted on 19 January 2010 by Asep Sofyan
Mengapa kita bercermin? Karena kita tidak dapat melihat wajah kita secara langsung dan secara keseluruhan. Kita ingin melihat wajah kita, maka kita membutuhkan cermin. Pada saat kita melihat cermin, kita jadi tahu seperti apa rupa wajah kita. Tapi pada saat yang sama, kita pun yakin bahwa wajah yang tampak di cermin itu bukan wajah kita yang sebenarnya. Ia tidak betul-betul ada, sebab kita tahu wajah yang kita lihat itu hanyalah bayangan dari wajah kita yang asli, yang kita rasakan menempel di atas leher kita.
Ketika kita melihat ke dalam cermin dan mendapati ada sebentuk wajah di dalamnya (kita sebut “wajah-dalam-cermin”), secara otomatis kita tahu pasti bahwa ada wajah asli yang sedang nampang di depan cermin (kita sebut “wajah-depan-cermin). Terlihatnya wajah-dalam-cermin meniscayakan adanya wajah-depan-cermin.
Seperti itulah analogi alam semesta dalam kaitannya dengan Tuhan. Alam semesta ibarat wajah-dalam-cermin. Ia dapat kita lihat, tapi kita tahu ia bukan yang sebenarnya. Jika ada wajah-dalam-cermin, niscaya ada wajah-depan-cermin. Kita yakin adanya, meski kita tak melihatnya. Itulah Tuhan. []
Filed under: Filsafat | Tagged: alam, Filsafat, Tuhan | 1 Comment »
Posted on 6 January 2010 by Asep Sofyan
Matamu yang bersinar tadi siang menyisakan terang di kamarku. Malam jadi cerah terkenang bunga yang merekah di bibirmu. Musik rock di kamar sebelah terdengar seperti merayu. Aku diam, terjaga dalam sepenuh ingatan terhadapmu.
Kulihat bulan dan bintang-bintang turun ke bumi, bermain petak umpet di halaman rumah karena langit cukup terang untuk ditinggal pergi.
Matamu itu, dan malamku jadi penuh gairah hingga teramat sayang jika kutinggal tidur.
Aku keluar kamar, duduk di teras dan menyanyikan lagu-lagu cinta yang tiba-tiba saja tercipta untukmu. Gitarku berdenting mengiring, mengalir jauh menyusup jendela kamarmu.
Masih perlukah kata jika sekeliling telah menerjemahkan semua gelora hati, seperti langit timur menerbitkan matahari?
Filed under: Puisi | Tagged: Puisi, puisi cinta | 3 Comments »
Posted on 6 January 2010 by Asep Sofyan
Manusia mempunyai sifat ingin tahu (curiosity) terhadap segala sesuatu. Dengan sifat ini manusia tidak pernah membiarkan ketidaktahuan mengisi ruang jiwanya. Alam, baik alam besar (makrokosmos) maupun alam kecil (mikrokosmos, manusia), dengan segala fenomenanya menimbulkan ketakjuban dan keheranan. Oleh karena itu manusia mencoba mencari jawab tentang segala fenomena yang dihadapinya.
Dalam usaha mencari jawab atas ketakjuban itu, manusia mengalami perkembangan, terutama dalam hal metode. Mula-mula, jawaban itu diperoleh lewat mitos yang bersifat irasional. Misalnya gerhana terjadi karena ada seekor naga raksasa menelan matahari, Read more »
Filed under: Filsafat | Tagged: Cina, Filsafat, Yunani | Leave a Comment »
Posted on 28 December 2009 by Asep Sofyan
Ma’asyiral muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Dalam dekade terakhir ini kesadaran beragama umat Islam semakin kuat. Bukan hanya umat Islam di pedesaan, tetapi lebih-lebih di perkotaan. Banyaknya artis-artis yang berjilbab, atau maraknya pengajian di hotel-hotel berbintang menunjukkan adanya penguatan kesadaran beragama itu. Menguatnya kesadaran beragama ini semakin memperkuat posisi daya tawar Islam di pemerintahan. Aspirasi-aspirasi mereka semakin didengar oleh pemerintah, termasuk aspirasi soal jaminan kehalalan suatu produk makanan. Hal ini juga sempat dipicu oleh sejumlah isu, seperti adanya lemak babi pada produk makanan tertentu, juga isu soal daging impor yang tidak jelas proses sembelihannya.
Maka kemudian kita menyaksikan kebijakan pemerintah, lewat LP-POM MUI, yang menganjurkan produsen makanan untuk memeriksakan produknya ke LP-POM, dan diberikan sertifikasi halal jika dinyatakan halal sesuai hukum Islam. Dengan adanya sertifikasi halal itu, umat Islam menjadi lebih tenang dalam mengonsumsi makanan yang beredar di pasaran. Read more »
Filed under: Agama | Tagged: Agama, halal, haram, label, MUI | 1 Comment »
Posted on 23 December 2009 by Asep Sofyan
Suatu hari mamah beli bawang banyak sekali sampai papah terheran-heran.
“Buat apa itu, mah, beli bawang banyak begitu?” tanya papah.
“Papah, kan, suka nasi goreng.”
“Nasi goreng? Asik! Tiap hari, ya, bikin nasi gorengnya.”
“Iya, jangan khawatir. Ini buat persediaan juga. Maklumlah harga-harga mamah dengar mau naik, jadi sekalian saja beli banyak. Mudah-mudahan cukup untuk beberapa bulan.”
“Wah, sebanyak ini sih buat tujuh turunan juga cukup. Tapi, bawang, kan, lama-lama bisa busuk.”
“Makanya semuanya sekarang mau mamah goreng, terus disimpan di toples. Tapi sebelumnya harus diiris-iris dulu.”
Read more »
Filed under: Cerpen | Tagged: Cerpen | 1 Comment »
Posted on 12 December 2009 by Asep Sofyan
Pengertian Ada
Secara bebas, “ada” dapat diartikan sebagai keadaan tercapainya segala esensi (kodrat atau fungsi) yang sudah melekat pada sesuatu sejak sebelum diciptakan. Ada merupakan keadaan akhir, ketika kodrat atau fungsi telah dipenuhi dengan sempurna. Kursi, misalnya, oleh pembuatnya sejak awal sudah diatur untuk memunyai fungsi sebagai tempat duduk. Ketika kursi itu dipakai sebagai tempat duduk, berarti kursi tersebut telah mencapai “ada” – ada sebagai kursi. Kursi yang masih terpajang di toko meubel adalah belum kursi. Kursi yang tidak dipakai sebagai tempat duduk, misalnya kursi mainan atau hiasan, adalah bukan kursi.
Ungkapan Descartes yang terkenal: aku berpikir maka aku ada, bisa dipahami dengan logika sederhana sebagai: aku ada karena aku berpikir. Jika aku tak berpikir maka aku tidak ada. Artinya, esensi manusia terletak pada pikirannya. Karena itu jika manusia tidak menggunakan pikirannya, kehadirannya di dunia ini sama dengan tidak ada. Tak beda manusia dengan kuda atau batu, sama-sama tak berpikir, dan karena itu ia tidak layak disebut manusia. Manusia adalah makhluk berpikir. Mengikuti definisi ini, maka untuk mencapai “ada”, manusia harus berpikir. Itulah cara-mengada (cara mencapai “ada” atau cara memenuhi esensi) manusia.
Read more »
Filed under: Filsafat | Tagged: ada, Descartes, Filsafat, kebenaran, khalifah, manusia, Tuhan | 1 Comment »