Posted on 7 November 2009 by Asep Sofyan

Dan malam hanya menunda kepedihan, untuk pagi, yang entah seperti apa rupanya. Aku takkan terpejam. Biar kuhayati helai demi helai kegelapan. Keraguan. Di balik sana mungkin ada terang. Tapi aku tak ingin pergi. Biar tetap di sini. Menanti. Biar segalanya tertunda. Derita, juga bahagia. Kunci telah kuserahkan. Biar kau yang tentukan. Atau biar segalanya tertahan. Tanpa jawaban, juga kepastian. Aku tak hendak mengira-ngira: hatimu jatuh pada siapa. Tak berguna. Hanya memperkoyak perihku saja, bila esok kau bawa luka.
Atau kau tak bawa apa-apa. Atau mungkin kau tak pernah tiba.
Biar, ini malam lebih indah kurasa.
Ciputat, April 2003
DIarsipkan di bawah: Puisi | Ditandai: elegi, Puisi, puisi cinta | Leave a Comment »
Posted on 1 November 2009 by Asep Sofyan
Perempuan yang bekerja dengan mengandalkan kemolekan tubuhnya atau mengumbar auratnya untuk mendapatkan uang, tidak tepat jika dikatakan “merendahkan derajat keperempuanannya”. Justru dengan berbuat demikian, ia telah “meninggikan derajat keperempuanannya”. Setidaknya perempuan itu memiliki harga tertentu yang dikuantifikasikan dalam bentuk uang. Orang lelaki rela mengeluarkan sejumlah uang untuk menikmati keindahan tubuhnya.
Perempuan yang demikian lebih tepat jika dikatakan “merendahkan derajat kemanusiaannya”. Sebab jika esensi manusia terletak pada pikirannya Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Agama, Gender | Ditandai: Agama, femininitas, Gender, jilbab, kemanusiaan, maskulinitas | Leave a Comment »
Posted on 11 Oktober 2009 by Asep Sofyan

Mari bermain sepi, ucapmu, seraya berlalu.
Jangan. Sepi bukan untuk dibuat main-main. Atau ia akan mempermainkanmu.
Justru itulah sebabnya kau harus bermain sepi, katamu lagi, dari tempat yang sangat jauh. Agar bukan ia yang mempermainkanmu. []
2009
DIarsipkan di bawah: Puisi | Ditandai: Puisi, puisi cinta | 1 Komentar »
Posted on 7 Oktober 2009 by Asep Sofyan
Ada seorang anak gembala, sebut saja namanya Gembul. Dia menggembalakan kambing milik tuannya yang berjumlah lima ekor. Setiap hari dia menggembalakan kambing-kambingnya di lapangan di pinggir kampung, dekat dengan hutan.
Suatu hari, mungkin karena bosan menunggui kambing, Gembul iseng hendak mengerjai orang-orang kampung. Dia lalu memanjat pohon yang cukup tinggi. Dia atas pohon, dia berteriak, ”Tolong…, tolong…, ada macan, ada macan mau makan kambing saya…!” Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Cerpen | Ditandai: cerita, cerita anak, dongeng | 3 Komentar »
Posted on 3 Oktober 2009 by Asep Sofyan
Ciputat, Sabtu 3 Oktober 2009
Dua malam terakhir ini aku numpang tidur di sekretariat CIPSI (Center for Islamic Philosophical Studies and Information; Pusat Informasi dan Studi Filsafat Islam), lembaga yang didirikan oleh Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara. Ini adalah semacam surga bagi para pencinta filsafat, khususnya filsafat Islam. Di tempat ini tersimpan rapi karya-karya para filosof muslim klasik seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ikhwan al-Shafa, al-Farabi, al-Ghazali, Mulla Shadra, Suhrawardi, al-Razi, Ibnu Arabi, dll (sebut saja sembarang nama), juga karya-karya telaah para filosof dan ilmuwan kontemporer seperti Seyyed Hosen Nasr, Toshihiko Izutsu, Abdul Karim Soroush, Marshal Hodgson, John Esposito, Osman Bakar, dll., dan tentu saja Mulyadhi Kartanegara. Sayangnya kebanyakan buku-buku itu ditulis dalam bahasa yang tidak dapat kubaca dengan nyaman (Arab dan Inggris) sebab akan mengharuskanku membuka-buka kamus di hampir tiap kata. Memang bukan surga kalau bisa diraih dengan mudah. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Cathar, Filsafat | Ditandai: Cathar, CIPSI, filosof, Filsafat, filsafat Islam, Mulyadhi Kartanegara, Osman Bakar | 1 Komentar »
Posted on 2 Oktober 2009 by Asep Sofyan
Lewat gaunmu
kau bicara
dari modelnya, warnanya, hiasannya
aku menangkap makna
Lewat gerakmu
kau bicara
isyaratmu, senyumanmu, rona pipimu
raguku pun sirna
Aku mengerti kekasihku, semuanya
tapi aku ingin kau bicara
lewat kata-kata
DIarsipkan di bawah: Puisi | Ditandai: Puisi, puisi cinta | 3 Komentar »
Posted on 1 Oktober 2009 by Asep Sofyan
Sudut pandang termasuk unsur intrinsik dalam cerita berbentuk prosa, selain tema, alur, latar, dan penokohan. Dibandingkan unsur-unsur lainnya, eksperimentasi atau pembaruan sudut pandang jauh lebih lambat dicoba oleh para pengarang kita.
Selama ini teori sastra hanya mengenal dua macam sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Tidak ada teori tentang sudut pandang orang kedua. Mengapa seperti itu, barangkali bisa dibayangkan dari pengandaian di bawah ini: Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Esai Sastra | Ditandai: Cala Ibi, Cerpen, Dadaisme, Dewi Sartika, Esai Sastra, Kabar Buruk dari Langit, Muhiddin M. Dahlan, novel, Nukila Amal, sudut pandang | 5 Komentar »